Pages

Kamis, 21 Januari 2010

7 Langkah ber-ATM yang Aman


Baru-baru ini muncul kasus kejahatan baru. Mungkin bukan baru, tapi kejahatan yang tengah marak di masyarakat. Pembobolan mesin ATM, ya, itulah kejahatan yang tengah meresahkan banyak masyarakan nasabah bank. Seperti yang dilansir banyak media, kasus tersebut tengah marak di Bali dan beberapa kota besar lainnya, dengan korban nasabah yang tidak sedikit. Menurut pihak yang berwajib, kasus ini akan segera mereka tuntaskan, karena telah meresahkan masyarakat. Pihak bank sendiri telah berkomitmen akan mengganti uang nasabah mereka yang telah dicuri. Walaupun demikian, kita sebagai masyarakat, rasanya perlu untuk berhati-hati. Jangan sampai uang yang kita tabung bertahun-tahun lenyap begitu saja di tangan maling—yang konon kabarnya melibatkan sindikat internasional itu.
Berikut tips-tips yang perlu diketahui oleh nasabah pemegang kartu ATM. Tips dibawah ini dirangkum dari berbagai sumber media.
1.       Ketika Anda mau memasukan kartu ATM, waspadalah! Pastikan dengan cermat bahwa tidak ada orang lain yang mengetahui password yang Anda tekan. Anda bisa menutupi dengan talapak tangan. Kerahasiaan password adalah hal wajib dijaga, sama halnya dengan menjaga kehormatan Anda!
2.       Perhatikan sekeliling sekilas, tapi cermat. Apakah ada orang yang mencurigakan. Biasanya mereka yang berniat jahat lebih dari satu orang. Jika Anda merasa curiga, apalagi Anda sendirian tanpa teman, lebih baik urungkan sementara niat anda untuk menarik uang tunai di ATM.
3.       Hati-hatilah terhadap Magnetic Stripe Recording Machine (MSRM) palsu. MSRM adalah alat yang canggih. Ia mampu membaca dan mengirimkan informasi dari pemilik sebuah ATM (pemilik ATM yang jadi korban, tentunya!). MSRM adalah mesin pembaca garis hitam yang berada di sisi ATM. Penjahat mesin ATM memasangkan mesin MSRM dengan cara mendompleng (menggandeng) dengan slot yang asli. Anda wajib waspada jika ada sesuatu yang mencurigakan di slot ATM, bisa jadi itu adalah MSRM palsu. Waspada lebih baik dari kemudian menjadi korban…
4.       Perhatikan juga apakah ada kamera lain di samping CCTV yang mencurigakan. Kalau ada bisa jadi itu adalah spy cam yang mengintai jejak jari Anda menekan tombol mesin ATM. Untuk antisipasi segera lapor ke pihak penjaga Bank bersangkutan.
5.       Bila Anda tiba-tiba saja dikasih tahu menerima hadiah sebuah undian, apalagi yang menyaratkan untuk mengirim sejumlah uang terlebih dahulu, berhati-hatilah! Periksa dengan seksama pemberi informasi. Kalau perlu minta konfirmasi langsung dari lembaga, perusahaan, institusi, yang akan memberi hadiah tersebut.
6.       Untuk pemilik ATM yang ceroboh, apalagi yang sering ketinggalan dompet (tas), jangan menulis kode password yang disimpan di dompet (tas). Ini menghindarkan Anda dari kebobolan ATM. Bisa saja ketika dompet (tas) anda hilang, lantas ditemukan oleh orang yang tidak baik, ATM Anda dalam sekejap akan ludes!
7.       Bagi para mahasiswa yang ngekos, apalagi yang ngekos berame-rame, hindari memberi password yang mudah ditebak seperti bilangan tanggal dan bulan kelahiran anda, bilangan tanggal kelahiran pacar anda, dll. Apalagi sampai menulis password di kartu ATM, bisa dipastikan Anda adalah orang terceroboh di dunia, karena memberi peluang ATM anda dibobol.

****


Anjing *


“Seperti anjing,” kata Joni kasar.
“Ya, ya, seperti anjing menggerogoti tulang,” tambahnya lagi.
Kata “anjing” tadi mengawali pembicaraan kami di suatu waktu. Ada apa dengan anjing? Apakah ada hubunganya dengan keyakinan agama (baca : Islam) yang menganggap anjing itu najis? Kenapa ada kesan kasar dan nada emosi dalam pembicaran tersebut. Bukankah anjing itu makhluk Tuhan juga? Kenapa demikian rendahnya martabat anjing di mata manusia, yang katanya makhluk sempurna itu? Percayalah tulisan ini tidak akan mengungkit keburukan-keburukan anjing, karena pada dasarnya anjing itu tidak perlu kita masalahkan. Anjing cuma makhluk biasa dengan imej yang buruk, ia senantiasa dihubungkan dengan sesuatu yang bersifat buruk pula. Di dalam ajaran agama, anjing memang makhluk najis, yang jika tersentuh secara fisik oleh kita, manusia, harus dibasuh dengan ketentuan tertentu sesuai dengan tuntunan agama. Walaupun demikian bukan berarti anjing dengan bebas ditindas dan dibacok seenak perut kita. Dalam keadaan tertentu, agama juga membolehkan kita memanfaatkan segala kelebihan anjing, seperti menjaga rumah, toko ataupun kebun misalnya. Secara pribadi, saya tidak ada masalah dengan anjing, bahkan terkadang, di mata saya, anjing merupakan sosok makhluk yang lucu dan ngegemesin. Tapi, barangkali memang sudah mengakar dalam masyarakat kita, anjing dikaitkan dengan segala keburukan. Walaupun kenyataannya, anjing bukanlah makhluk yang buruk, ia punya kelebihan-kelebihan yang tidak dimiliki oleh makhluk Tuhan yang lain
“Anjing, luh,” umpat Joni ketika keserempet ojek di pasar Senen.
“Anjing juga luh, jalan pake mata, dong,” balas abang ojek seraya menggeber kencang motor bututnya.
Apa salah anjing, kok ia disebut-sebut dengan nada kasar seperti itu? Apa hubungannya anjing dengan keserempet? Kenapa ia disebut-disebut saat manusia mengalami hal yang buruk?
Tak ada, kan? Jelas sekali tak hubungannya. Itulah yang saya katakan tadi, anjing selalu disebut-sebut dan dihubungkan dengan sesuatu yang buruk, seolah-olah anjing itu memang sumber segala keburukan. Pada kenyataannya, manusialah yang lebih sering bersikap buruk kepada para anjing. Anjing, dengan kelebihannya bisa melacak hal-hal yang tidak bisa dilacak oleh manusia. Dalam banyak hal anjing telah banyak menolong para petugas kepolisian menangkap para penjahat, kendati para penjahat yang ditangkap berkat lacakan hidungnya yang tajam itu kemudian dicap sebagai anjing oleh masyarakat.
Nah lho? Kok bisa anjing menangkap Anjing?
Ya tentu saja bisa, yang satu anjing beneran, satunya lagi anjing-anjingan alias seperti anjing.
“Sumpah seperti anjing,” kata Joni lagi dengan intonasi mantap. Menggeleng, dan ia berkata lagi, “Ya, ya, seperti anjing yang menjilati tahi!”
Anjing. Sekali lagi anjing masuk ke dalam pembicaraan kami waktu itu. secara pribadi, saya ulangi tidak ada masalah saya dengan anjing. Saya juga tidak tahu persisnya bagaimana sifat anjing secara detail. Yang saya tahu, di masyarakat kita, anjing memang dipandang rendah, kendati anjing sangat berharga melengkapi kebutuhan hidup manusia.
“Kalau Mereka yang seperti anjing itu kesasar di hutan, akan saya bacok dengan parang,”
“Jika yang kamu temukan di hutan itu anjing beneran?”
“Kalau anjing beneran, akan saya bawa pulang untuk piaraan,” jawab Joni.
“Kalau benar Mereka yang seperti anjing itu yang kamu temui…?”
“Tetap saya bacok,” jawab Joni cepat dan mantap.
Ya. Itulah Joni. Saya tak tahu seatan jenis apa yang telah merasuki otaknya sehingga terang-terangan ingin membacok Mereka yang seperti anjing itu.
“Siapa sih yang Kamu maksud dengan “Mereka” yang seperti anjing itu?”
Tanpa ragu Joni menjawab tenang; “Mereka yang berebut tulang-tulangan, layaknya anjing berebut tulang-tulang beneran…”
“Itu saja?” tanya saya heran. Tulang-tulangan?
“Ada lagi,” jawab Joni lebih mantap, “…Mereka yang Menjilat tahi-tahian, layaknya anjing menjilat tahi-tahi beneran.”
Tulang-tulangan?
Tahi-tahian??
Ah! Benarkah anjing seperti itu???

Zamroni Rangkayu Itam
* Catatan;
Pada dasarnya, penulis adalah pecinta binatang, termasuk, harimau, kucing garong, tikus comberan, dan anjing sekali pun. (Hehehehe! anjing-anjingan tidak termasuk!)



Tentang Pengelola Palantakayu



Pengelola weblog Palantakyu ini lahir pada tanggal 22 Agustus 1986 di sebuah desa nun jauh sana di Sumatera sana, tepatnya desa Bedaro 20 Km dari pusat kota Muara Bungo, Jambi. Di desa yang cukup terisolir itu dia menjalani masa-masa yang indah yang tidak mungkin bisa dinikmati oleh anak-anak kota besar seperti Jakarta. Hal ini ia telah lihat dan rasakan sendiri. Bayangkan saja, orang kota Jakarta, mau lihat monyet saja harus ke Ragunan. Sedangkan di desanya, tinggal datang ke kebun karet, monyet sudah banyak yang bergelantungan. Bahkan saking banyaknya monyet di kebun, berburu monyet dengan ketapel jadi keharusan. Hal ini disebabkan oleh keusilan mereka yang suka mematahkan pucuk pohon karet yang masih muda. Alhasil, berburu monyet pun menjadi keasyikan tersendiri, tentunya sambil membawa misi Save Our Rubber Plan. Namun sekarang ia sendiri merasa bersalah, berburu monyet kan bertentangan dengan HAM (Hak Asasi Monyet), he..he..he, pisss ya mon_nyet..!!!.
Contoh lain dari masa kecil yang menyenangkan dan tidak mungkin bisa dinikmatin oleh anak-anak kota adalah alam desa yang bersih, tenang. Sungai yang jernih dengan ikan yang banyak. Sangat nyaman bagi kanak-kanak berenang dan menangkap ikan. Tentu hal ini tidak bisa kita temukan di Ciliwung. Tapi, inilah hidup, selalu ada dua sisi. Setiap sisi punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Tentang masa kecil di perkotaan tentu mereka yang hidup di kota yang bisa menceritakannya.
 Nama lengkap pengelola weblog ini sebenarnya adalah Zamroni, tapi sebagai dedikasi dan penghormatan kepada orangtua (bapak), dia menambahkan nama belakangnya dengan Ibrahim, jadi sejak itulah nama Zamroni Ibrahim selalu dibawa oleh pemilik tinggi 168 cm ini sebagai identitasnya. Terkadang ia menambahkan Rangkayu Itam di belakang nama aslinya. Rangkayu Itam? Mungkin tak banyak yang tahu nama apa itu. Rangkayu itam adalah nama sosok manusia yang melegenda di tanah melayu Jambi. So, sekedar menyimpan ingatan akan kisah orang lama, ia menyelipkan nama Rangkayu Itam di belakang nama aslinya.
Setamat SD di kampung halamannya, dia melanjutkan sekolah menengahnya ke sebuah sekolah ternama di kota Bukittinggi, yakni Sumatera Thawalib Parabek. Persentuhannya dengan sekolah yang tradisi keagamaannya kuat dengan sosiokultural masyarakat yang elegan, telah membawanya kepada pembentukan jatidirinya. Untuk satu ini ia mengucapkan; Thanks Bukittinggi, God bless Thawalib!
Setelah menamatkan studinya di kota Sanjai tersebut pada tahun 2005, dia melanjutkan kuliah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Pada awalnya ia mau melanjutkan  studi ke Kairo, tapi sang bunda tidak mengizinkan. Maka jadilah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang jadi pelabuhan. Studi majornya di UIN adalah Jurusan Perbandingan Agama di Fakultas Ushuluddin dan Filsafat. Pemilihan jurusan memang ada alasan yang rasionalnya tersendiri. Rasa curiousity yang ada di benaknya terhadap agama-agama, telah mengantarkan ia kepada jurusan yang langka itu. Walupun ada yang mencibir pilihan tersebut, tak apalah, they don’t understand. Seperti manusia, agama pun sudah setua sejarah manusia itu sendiri. Agama-agama sudah eksis seiring dengan eksisnya manusia itu sendiri.
Pernah terlintas juga di benaknya untuk melakukan proyek penelitian agama asli (lokal) suku Kubu yang ada di derahnya, Jambi. Sampai saat ini orang Jambi pun tidak tahu persis agama asli suku Kubu itu seperti apa. Mudah-mudahan bisa terealisasi dan suku kubunya tidak keburu musnah diinvasi modernisasi “Orang Terang.”
Pada dasarnya, niat utama darinya ini untuk ikut membuat blog tak lain hanyalah sebagai sarana tulis menulis. Dengan menulis orang bisa melihat dan bahkan bisa saling bertukar pikiran. Menurutnya sarana ini sangatlah penting untuk dimanfaatkan demi pencerahan. Ya, setidaknya ia bisa menjadi partisipan dari revolusi media informasi global yang sedang menggeliat di abad kita ini.


Zamroni Ibrahim


Rabu, 20 Januari 2010

Rantai yang Terputus




“…Kalau tikus gedongan bisa mengintimidasi petugas hukum, kenapa tikus got tidak bisa mengintimidasi kucing—yang dalam banyak hal hanya bisa mengeong malas??!”

Suatu malam ada sebuah kejadian kecil yang menggelitik hati dan benak saya. Bukan hanya sebatas itu malah, kejadian tersebut tak pelak membuat saya tertawa geli. Apa gerangan kejadiannya? Sebenarnya simpel sih, terlebih bagi orang yang tinggal di pemukiman agak padat. Saat itu saya keluar kosan mencari makan malam, di depan sebuah musholla dekat kontrakan, ada seekor tikus dengan cueknya melintas di depan saya. Tak ada masalah sebenarnya bagi saya, apalagi hanya seekor tikus. Tak perlulah rasanya saya berteriak ber-jijay ria hanya karena makhluk yang sudah sangat familiar itu—atau bahkan, kalau saya mau, dengan gampang tikus itu bisa saya tendang, seperti tendangannya Clerence Seedorf dari negeri kumpeni itu. Tapi itu tidak saya lakukan, perhatian dan pikiran saya tercurah pada pemandangan “aneh” yang membuat hati saya tergelitik…
Kucing. Ya kucing, binatang lucu berbulu yang menggemaskan itulah yang membuat saya tertawa geli. Saat tikus melintas di depan saya, di saat bersamaan juga ada kucing. Kucing itu samo bae dengan tikus—juga tak kalah cueknya. Kejadian seperti ini sering saya lihat selama di Jakarta. Perasaan saya, tabiat kucing di kampung saya—yang jauh di pelosok Sumatera sana, tidak seperti itu. Tak ada tikus yang sempat men-cuekin kucing. Malah tikus di kampung saya selalu berlari menghindari kejaran kucing. Fenomena tikus-kucing cuek-cuekan ini terus terang pemandangan yang lumayan baru bagi saya—yang notabene baru empat tahun berdomisili di Jakarta.
Tikus mencuekin kucing, yang saya ceritakan di atas tadi, adalah tikus got. Saya rasa kita semua tahulah bagaimana rupa dan bentuk dari tikus got; besar, berbulu jarang, dan tentu saja terkadang juga suka mengorek-ngorek tong sampah. Sedangkan kucing, saya rasa kucing tersebut adalah kucing garong. Itu terlihat dari bulunya yang dekil—tidak ada tanda-tanda kalau itu adalah kucing rumahan.
Kita telah belajar Biologi di Sekolah Dasar. Kita tahu kucing dan tikus merupakan bagian dari rantai makanan, bagian dari ekosistem; kucing memangsa tikus dan tikus dimangsa kucing. Itu adalah teori dasar dan hukum alam yang sudah bertahun-tahun diajarkan di bangku Sekolah Dasar. Saya yakin kita semua sudah tahu itu. Tapi apakah kejadian tikus dan kucing saling bercuekan, tikus tidak takut kucing, dan kucing tidak berminat memangsa tikus—merupakan sebuah anomali? Anomali yang hanya terjadi di suatu daerah tertentu, misalnya? Hmm, boleh jadi memang begitu keadaannya.
Kita sudah paham, Jakarta merupakan kota besar yang penuh polusi. Apa saja sudah ter-polusikan di kota Jakarta ini; udara, tanah, sungai, dan tentu saja got-got yang menjadi sarang tikus. Kalaulah kita mau menengok dan memperhatikan got-got yang ada di Jakarta, Naudzubillah bukan main baunya. Got-got yang diisi oleh aneka sampah rumah tangga, atau sampah dari limbah pabrik, sama sekali bukan suasana yang menyenangkan. Siapapun pasti mengakui itu. Tikus, makhluk pengerat yang kehilangan habitat alaminya, yaitu semak-semak kecil, lubang-lubang kecil di rerimbunan tumbuhan, mau tak mau harus menyesuaikan diri dengan lingkungan yang sudah tercemar tersebut. Semak dan lubang-lubang di tanah, secara alamiah jika tidak terkontaminasi, menjadi tempat yang ideal bagi makhluk semacam tikus. Tapi apa boleh buat, Jakarta, dan mungkin kota-kota metropolitan yang lain di Indonesia, harus membuat tikus menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya; hutan Metropolitan.
Kucing cuek dan tidak berminat memangsa tikus, bukan berarti dia sudah kehilangan orientasi dalam berburu. Kucing tidak salah jika dia ”membelot” dari hukum rantai makanan; kucing memangsa tikus. Keadaanlah yang membuat segala sesuatunya terjadi seperti itu. Tikus besar dengan bulu yang jarang, sepintas memang tampak mengerikan—bahkan untuk ukuran kucing yang paling garong sekalipun. Hidup tikus di got-got bau yang penuh sampah, barangkali telah membuat dagingnya alot dan pahit. Ini perkiraan kasar saya loh! Kalau tidak demikian bagaimana mungkin kucing bisa membiarkan tikus lewat begitu saja di depan mata terang dan cakar tajamnya? Apalagi itu alasannya kalau bukan karena daging tikus sudah tidak mengenakkan lagi di lidah kucing. Yah, saya tidak tahu kenapa anomali, yang sejauh ini baru saya temukan di Jakarta, bisa terjadi. Hanya kucing dan tikuslah yang tahu! Atau barangkali kucing keder melihat fisik tikus got yang gede (atau badagok, kata orang Padang). Bisa jadi pula, tikus-tikus mulai berani mengintimidasi kucing karena memang memiliki fisik yang mendukung untuk itu.
Nah! Kalau memang benar begitu, luar biasa sekali Jakarta, punya tikus yang garang-garang. Kucing kok diintimidasi! Barangkali juga tikus got telah banyak belajar dari manusia yag dijuluki tikus gedongan. Bisa jadi, kan? Kalau tikus gedongan bisa mengintimidasi petugas hukum, kenapa tikus got tidak bisa mengintimidasi kucing—yang dalam banyak hal hanya bisa mengeong malas. Hahaha!!

Zamroni Rangkayu Itam
sumber gambar : coach4growth





Minggu, 17 Januari 2010

Sayembara Penulisan Lakon Realis*



Dalam dua dekade terakhir panggung teater Indonesia mengalami kemerosotan drastis dalam kuantitas pementasan bergaya realis, seiring dengan semakin banyaknya kemunculan “teater tubuh”. Sejumlah pengamat pernah menyatakan bahwa dalam teater kita telah terjadi krisis aktor. Hal itu mengacu pada kenyataan bahwa tidak banyak aktor yang menunjukkan kepiawaian menghidupkan teks (dialog) dan membangun karakter. Salah satu kemungkinan penyebabnya adalah kelangkaan lakon yang mengutamakan seni peran. Beberapa naskah jenis itu, yang sedikit jumlahnya, terlalu sering dipentaskan ulang tanpa menawarkan kesegaran. Sehubungan dengan itulah Komunitas Salihara menyelenggarakan Sayembara Penulisan Lakon Realis.
Syarat-Syarat
1.       Tema bebas.
2.       Ditulis dalam bahasa Indonesia.
3.       Memperhitungkan durasi pementasan, antara 1 sampai 1,5 jam.
4.       Tidak berbentuk monolog dan dibuat untuk dimainkan oleh maksimal 5 (lima) karakter/tokoh.
5.       Belum pernah dipentaskan/diterbitkan sebagian atau seluruhnya dalam bentuk apa pun.
6.       Naskah diterima panitia paling lambat pada tanggal 30 Juni 2010.
7.       Pementasan perdana naskah pemenang menjadi hak panitia.
8.       Nama dan biodata pengarang ditulis pada lembar terpisah dari naskah.
9.       Naskah dikirim rangkap 4 (empat) dalam amplop yang ditulisi “Sayembara Penulisan Lakon Realis” di pojok kiri atas, ke:
Komunitas Salihara
Jl. Salihara 16, Pasar Minggu
Jakarta Selatan 12520

Pemenang dan Hadiah:
1.       Dewan Juri akan memilih 3 (tiga) finalis dan menentukan 1 (satu) lakon terbaik.
2.       Pemenang akan diumumkan pada Festival Salihara, September 2010.
3.       Lakon terbaik akan mendapatkan hadiah uang Rp 20.000.000,- (dua puluh juta rupiah) dan dua lakon finalis lain masing-masing mendapat uang Rp 5.000.000,- (lima juta rupiah); pajak ditanggung penerima hadiah.
4.       Lakon terbaik akan dipentaskan untuk pertama kalinya di Teater Salihara sebagai produksi Komunitas Salihara.
Dewan Juri dan lain-lain:
1.       Dewan Juri terdiri dari 3 orang: Iswadi Pratama (penulis lakon dan sutradara Teater Satu, Lampung), Zen Hae (penyair dan penulis cerita), dan Seno Joko Suyono (wartawan budaya Koran Tempo, pengamat seni pertunjukan).
2.       Panitia (kurator dan seluruh karyawan Komunitas Salihara) dan anggota Dewan Juri dilarang mengikuti sayembara ini.
3.       Keputusan Dewan Juri akan dipertanggungjawabkan pada saat pengumuman pemenang, dan tidak dapat diganggu-gugat.

Jakarta, 01 Januari 2010
Komunitas Salihara,
Panitia Sayembara Penulisan Lakon Realis

catatan : 
*Pemuatan info di atas di weblog palantakayu ini adalah inisiatif pengelola sendiri untuk menyebarluaskan informasi berkenaan. Sebagai pencinta sastra Indonesia, info tersebut menjadi kesempatan kecil untuk menjadi partisipan dalam pengembangan kemajuan sastra Indonesia, kendati kontribusinya tidaklah besar--hanya meneruskan info yang telah ada dari sumber aslinya.
*Untuk melihat info lebih lanjut, kunjungi situs Salihara, dan boleh juga bergabung di komunitas jejaring sosial facebook milik mereka...





Jumat, 15 Januari 2010

Kilas Balibo


Kabar mengenai film Balibo telah terdengar di telinga saya dalam interval satu bulan belakangan ini. Berdasarkan berita media elektronik dan kabar mulut ke mulut film yang dibuat sutradara Australia tersebut menyudutkan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Masih menurut kabar yang saya dengar, film tersebut menggambarkan kekejaman tentara Indonesia dalam masa okupasi (invasi) ke Timor Leste pada tahun 1975. Walaupun “panas” Balibo telah mendingin, tapi tak menyurutkan niat saya untuk menontonnya.
Tentu saja film Balibo tidak saya tonton di bioskop ataupun di festival JIFFest, karena memang dilarang oleh otoritas badan sensor perfileman kita. Menurut pihak berwenang Indonesia, film yang berdurasi 111 menit tersebut berpotensi merenggangkan hubungan Indonesia-Timor Leste-Australia.
Terlepas dari alasan tersebut, sebagai penikmat film, larangan peredaran dan pemutaran Balibo justru melahirkan rasa keingintahuan pribadi saya. Apa benar film yang disutradai Robert Connolly itu bisa berdampak begitu besar. Dan untunglah, melalui harddisk komputer seorang teman, film yang mengambil latar asli Timor Leste itu berhasil juga akhirnya saya tonton.
Kabar mengenai isi film Balibo sebelum saya tonton ternyata benar. Film tersebut tak diragukan lagi memang menyudutkan tentara Indonesia. Dalam skala luas menyudutkan Indonesia secara keseluruhan. Sebagai orang Indonesia film tersebut tak perlu terburu-buru kita cap sebagai propaganda kejelekan Indonesia. Siapa tahu film yang dibintang Antonio LaPaglia tersebut separuhnya bisa saja benar, kendati separuhnya bisa pula salah.
Secara umum Balibo menggambarkan perjalanan seorang jurnalis senior Roger East (Anthoni LaPaglia) ke Timor Leste menjelang detik-detik Invasi Indonesia. Dalam proses investigasi mencari keberadaan lima jurnalis muda yang hilang di Timor Leste tersebut, ia bertemu dengan Jose Ramos Horta (Oscar Isaac). Dari Horta itulah Rogert East tahu banyak tentang Timor Leste. Ia tahu posisi Timor Leste yang kini bersiap menghadapi serbuan tentara Indonesia. Termasuk juga kemungkinan telah terbunuhnya lima jurnalis yang tengah ia cari keberadaannya. Keberadaan Rogert East di Timor Leste ternyata hanya mengantarkan nyawa. Ia tewas dieksekusi oleh tentara Indonesia tengah menginvasi negara kecil itu. Sedangkan lima jurnaslis yang ia cari juga mengalami nasib yang sama. Tewas di ujung senapan tentara Indonesia. Balibo juga menyuguhkan gambaran kebrutalan tentara Indonesia yang tanpa pandang bulu menembak setiap orang Timor Leste yang dijumpainya.
Cerita Balibo adalah cerita tentang pembantaian. Pembantaian yang terbalut invasi. Lalu bagaimana kita, sebagai orang Indonesia, memandangnya? Apakah perlu kita marah kepada seluruh orang yang terlibat dalam proses pembuatan film tersebut. Saya rasa tak perlu. Kita berkaca saja dari sejarah awal pembentukan NKRI ini. Menurut sejarah, negara kita yang bernama Indonesia ini berawal dari kesamaan nasib. Sama-sama jajahan Belanda. Negara kita yang ada sekarang ini disebut Hindia Belanda oleh kolonial pada masa itu. Sedangkan Timor Leste adalah wilayah jajahan Portugis, dan pernah dijuluki Portugis Timor. Pada awal-awal mencari jatidiri nasional, salah seorang tokoh, Moh. Yamin, pernah mengusulkan bahwa yang Indonesia itu adalah Melayu—dalam artian Austronesia. Jika konsep Yamin ini diikuti, negara berdasarkan rasial, sebagian Ambon, sebagian besar Papua, dll, tidak termasuk ke dalam NKRI, kendati Malaysia dan Singapura bisa masuk ke dalamnya. Akhirnya konsep kesamaan administratif (sesama wilayah jajahan Belanda) lah yang dikuti.
Kalau kita melirik pendapat Pramoedya Ananta Toer, seorang sastrawan yang ahli sejarah, proses integrasi Timor Leste Indonesia pada tahun 1975, memang sebuah invasi. Pengintegrasian Timor Timur, begitu Indonesia menyebut Timor Leste dahulu, adalah sebuah kesalahan sejarah. Masih menurut Pram, masuknya Timor Leste menjadi provinsi ke-27 adalah kegoblokan besar. Bagaimana bisa negara Indonesia yang terbentuk atas dasar kesamaan nasib, sesama jajahan Belanda, bisa menginvasi wilayah lain yang tidak kena mengena dengan sejarah awal terbentuknya Indonesia. Data tentang banyaknya korban tewas (mencapai angka puluhan ribu) di pihak sipil Timor Leste, bagi kita begitu menyentakkan. Jelas saja tersentak, puluhan tahun kita berada dalam kurikulum pelajaran Sejarah yang berbeda 180 derajat dengan film Balibo.
Segala penggambaran kebrutalan tentara kita boleh jadi dibuat secara dramatis, berlebihan, ada tambahan bumbu sana-sini. Tapi, korban jiwa yang kabarnya menelan hampir sepertiga penduduk Timor Leste itu jelas tak bisa kita kesampingkan. Kita boleh saja tidak percaya film ini. Gambaran kekejaman, kebrutalan tentara Indonesia di film ini membuat sejenak kita malu. Membuat kita muak dan mual. Apa benar sebegitu sadisnya kita. Tapi, melalui fim ini kita bisa tahu bagaimana persepsi orang lain mengenai kita—Indonesia. Khususnya persepsi orang Timor Leste dan Australia mengenai proses pengintegrasian Timor Leste ke Indonesia pada tahun 1975. Dari situ pula kita tahu ada pandangan lain. Tidak hanya pandangan sebagai seorang insider kita ambil, pandangan orang lain sebagai outsider perlu juga kita lirik sebagai perbandingan!


Zamroni Rangkayu Itam


Sumber imej mini poster : wikipedia

Rabu, 06 Januari 2010

Kesal, Lantas Nekat Menerobos….




Stres, itulah barangkali kondidi psikis seorang penonton yang hadir di Stadion Utama Gelora Bung Karno malam ini (06/01/10). Timnas Indonesia yang bertanding melawan Oman di hadapan ribuan suporter sendiri itu tampaknya tak bisa (baca juga: tak mampu) berbuat apa-apa. Jangankan berharap untuk menang, tidak kalah dengan selisih gol besar saja sudah untung. Kondisi itulah tampaknya yang membuat seorang suporter yang belum diketahui namanya rela berbuat nekat.
Pertandingan belum lagi selesai. Ada sisa empat-lima menit lagi injury-time. Para pemain Indonesia juga tidak melihatkan inisiatif untuk menggempur barisan pertahanan Oman kendati sudah jelas dalam keadaan tertinggal satu gol. Aroma ketidaksabaran, putus asa, kesal, sedih sekaligus marah, meruap ke seluruh stadion—tentu termasuk juga-lah penontoh yang berada di depan layar kaca.
Di saat sisa waktu itulah, seorang penonton nekat, "gila", menerobos masuk lapangan. Orangnya agak gemuk. Membawa lari badannya agak tambun itu saja ia agak kepayahan. Otomatis wasit menghentikan permainan, dan membiarkan petugas keamanan mengamankan orang "gila" tersebut. Ia akhirnya dibekuk petugas keamanan tanpa perlawanan. Di wajahnya yang bulat hanya menyisakan seraut wajah kesal sesal tertahan.
Saya tahu kejadian unik ini dari layar televisi. Perasaan kita sebagai orang Indonesia yang menonton pertandingan tersebut saya yakin sama. Ada rasa kecewa, kesal dan sesal. Kenapa dalam keadaan tertinggal timnas kita tidak kunjung bisa memperbaiki alur permainan. Penonton yang nekat yang saya sebut "gila" tadi mungkin menjadi wakil utama kita semua. Lewat aksi nekatnya, biar mereka semua tahu apa yang kita semua rasakan. Biar para pemain, pelatih, PSSI, tahu apa yang diinginkan publik sepakbola kita.
Dengan hasil 1-2 ini, Indonesia dipastikan tidak lolos ke piala Asia 2011 di Qatar. Hasil yang bagi saya seribu persen wajar. Bagi mereka yang menyaksikan bagaimana timnas kita bermain bola dari awal kualifikasi grup sampai sekarang tentu paham. Malah akan sangat aneh jika Indonesia lolos. Lah, bermainnya saja nggak jelas kok bisa-bisanya lolos!
Penonton yang nekat menerobos lapangan, lantas mengejar, menggiring dan menendang bola ke arah gawang oman tersebut, jelas merupakan ekspresi kekecewaan. Bagaimana ia (dan kita juga) tidak kecewa? Sudahlah capek mendukung, datang ke stadion (atau nongkrong dengan setia di depan tivi), berteriak-teriak memberi semangat, tapi yang disemangati tak jua kunjung semangat. Mengoper bola saja tidak benar. Setiap kali bola melintas tengah lapangan selalu diputus pemain lawan. Mengocek bola pun mereka jauh dari harapan, bagi mereka yang penting ketika bola ada di kaki langsung di tendang tanpa penduli timing kapan mengumpan, kapan menahan atau kapan harus menggiring bola itu sendiri.
Saya tahu dan paham penonton yang nekat itu sebenarnya tidak gila. Bagi saya dia hanya gila dalam tanda kutip, gila bukan dalam artian sebenarnya. Saya justru mengangggap orang Indonesia yang tidak kesal, marah, stres, ketika menyaksikan pertandingan yang “hancur” tersebut-lah yang sebenarnya gila…ya gila dalam artian sebenarnya!


Zamroni Rangkayu Itam


Minggu, 03 Januari 2010

Waktu Ke Waktu Tahun Ke Tahun (Masih Seperti Dulu)


(Catatan (semi?) reflektif awal dan akhir tahun)
***

Ah, beberapa hari di tahun 2010 sudah kita jalani. Detik perjalanan waktu beranjak ke taraf menit dan jam masihlah seperti dulu. Tak berubah. Terus, semua akan masih berjalan sama, seperti tahun-tahun sebelumnya. Dan, (mungkin) masih takkan terasa lama tahun yang akan baru akan datang lagi. Lagi dan lagi. Kita, akan masih tetap menyatu dalam waktu. Bisa pula suatu saat kelak waktu pula-lah yang menghentikan langkah kita di bumi ini.
Bukan hanya kesan dan jejak hura-hura yang menyergap otak dan pikiran di awal pergantian tahun ini. Bukan hanya pula taburan bunga api mengangkasa dan desingan hingar bingar konser-konser musik. Memori kita terkadang terlempar jauh ke ingatan lima-sepuluh tahun atau bahkan melebihi ke separuh usia kehidupan masa lalu kita.
Bagi saya, lima tahun yang lalu saya masih duduk di tingkat akhir sekolah menengah atas dan masa persiapan masuk perguruan tinggi, kuliah. Sekarang, situasinya lain, saya berada pada masa akhir duduk di tingkat perguruan tinggi, dan ada pada masa awal persiapan masuk dunia kerja secara serius dan (mungkin) juga permanen. Jika ditarik ke masa lebih jauh lagi ke belakang, sepuluh tahun yang lalu misalnya, saya 13 tahun. Berada di tingkat satu sekolah menengah pertama. Masa itu masa peralihan dari kanak-kanak ke masa remaja. Masa awal memasuki ’Dunia’ kata orang. Sebuah masa yang kini terasa indah dan sangat melegakan (pada saat itu...), tak ada beban. Sepuluh tahun yang lalu saya masih ingat saya sering bolos mata pelajaran Matematika, sebab gurunya killer bukan main. Bolos, ya benar bolos, tapi hanya mata pelajaran Matematika. Pelajaran yang lainnya selalu saya sambut antusias, terkadang dengan semangat yang ambisius. Sepuluh tahun yang lalu juga, saya pernah merasa senang dan bangga sebab usia kini (dulu) berada pada taraf remaja, ABG.
Lagi, dan lagi, jika ditarik lebih jauh (dan jauh) ke lima belas tahun yang lalu, usia saya delapan tahun. Saya masih kanak-kanak dan duduk di kelas dua SD desa. Masa saya masih bandel (tak terlalu sih!). Mandi di sungai saya masih telanjang polos. Suka terjun lompat dari jembatan ke sungai desa kami. Suka berenang mengilir pakai rakit batang pisang dari hulu sungai kampung sampai ke hilirnya saat air sungai naik dan deras. Atau main perang-perangan lempar lumpur. Sesekali dimarahi bapak-bapak atau ibu-ibu karena lemparan kami nyasar mereka yang sedang mandi di Tepian sungai. Masih lima belas tahun saya bersama gerombolan bocah lainnya sesekali (mungkin sering...) bersaing dengan kalong pada malam hari saat musim duku tiba, kami bertengger di dahan-dahannya menikmati buah duku manis yang tiada banding, kendati pada pagi harinya bapak saya sendiri tiba-tiba kesal karena pohon duku kami juga dipreteli buahnya oleh bocah-bocah nakal lainnya. Tapi itu tak ada masalah, duku memang banyak di desa kami. Bagi yang pohon dukunya jadi korban bocah pada malam hari, pagi atau siangnya, sang empu duku akan segera melilitkan kawan berduri batangnya. Juga, saya masih ingat ladang tebu yang terletak diujung jalan desa sering kami nimati tanpa izin. Ah..., itu masa saya masih bocah!
Ah! Kini (tiba-tiba) saya sudah 23 tahun. Masa yang berat mungkin. Duduk di tingkat akhir sebuah universitas. Mungkin jika Tuhan berkehendak, dan Dia memberikan banyak lagi waktu, tak lama lagi (mungkin), prosesi ritual sakral hidup kedua akan dijalani. Prosesi pertama dan segala proses setelahnya sudah saya jalani. Masa lahir dari rahim ibu—yang disebut prosesi pertama sudah lewat 23 tahun. Prosesi kedua—masa berumahtangga mungkin juga tak lama lagi. Itu pun jika Tuhan menghendaki. Jika ada jodoh di hati dan di catatan-Nya. Prosesi kedua sudah di depan mata. Sedangkan prosesi ketiga—kematian, tak akan pernah tahu kita, kapan masa itu akan datang.
Ah, waktu! Engkau memang terbalut detik, menit, jam, hari, minggu, bulan dan tahun. Cepat Engkau berlalu bersama usia kami. Tapi Engkau tetaplah waktu. Bagimu tak ada kompromi. Jalan dan terus jalan seiring peputaran bumi mengelilingi matahari. Engkau terbalut siang-malam. Kami tahu, itulah Kamu. Waktu.
Hmm. Pergantian. Waktu ke waktu. Tahun ke tahun. Di setiap waktu dan tahun, apa yang kami (dan dunia) hadapi dan jalani selalu berubah. Terus berubah. Tapi waktu, tahun, dari setiap pergantiannya, masih tetap sama. Masih waktu dan tahun itu juga. Cuma kita menyebut bilangannya saja yang berbeda...

Zamroni Rangkayu Itam

kredit gambar : boedijaeni.wordpress.com



Jumat, 01 Januari 2010

Siapa yang Paling Hebat?


(Lelucon) Oleh Alm. Gus Dur*

Di atas geladak kapal perang US Army tiga pemimpin negara sedang "berdiskusi" tentang prajurit siapa yang paling berani. Eh kebetulan di sekitar kapal ada hiu-hiu yang sedang kelaparan lagi berenang mencari makan ...
Bill Clinton: Kalau Anda tahu ... prajurit kami adalah yang terberani di seluruh dunia ... Mayor .. sini deh ... coba kamu berenang keliling ini kapal sepuluh kali.
Mayor: (walau tahu ada hiu) siap pak, demi "The Star Spangled Banner" saya siap ,,, (akhirnya dia terjun dan mengelilingi kapal 10 kali sambil dikejar hiu).
Mayor: (naik kapal dan menghadap) Selesai pak!!! Long Live America!!
Clinton: Hebat kamu, kembali ke pasukan!
Koizumi: (tak mau ketinggalan, dia panggil sang sersan) Sersan! Menghadap sebentar (sang Sersan datang) ... coba kamu keliling kapal ini sebanyak 50 kali ... !
Sersan: (melihat ada hiu ... glek ... tapi) for the queen I'am ready to serve!!! (pekik sang sersan, kemudian membuka-buka baju lalu terjun ke laut dan berenang keliling 50 kali ... dan dikejar hiu juga).
Sersan: (menghadap sang perdana menteri) GOD save the queen!!!
Koizumi: Hebat kamu ... kembali ke tempat ... Anda lihat Pak Clinton ... Prajurit saya lebih berani dari prajurit Anda ... (tersenyum dengan hebat ...)
Gus Dur: (Gus Dur panas dan jelas tak mau ketinggalan unjuk gigi. Maka dipanggilnyalah kopral) Kopral ke sini kamu ... (setelah datang ...) saya perintahkan kamu untuk terjun ke laut lalu berenang mengelilingi kapal perang ini sebanyak 100 kali ... ok?
Kopral: Hah ... Anda gila yah ...! Presiden nggak punya otak ... nyuruh berenang bersama hiu ... kurang ajar!!! (sang Kopral pun pergi meninggalkan sang presiden ...)
Gus Dur: (Dengan sangat bangga) Anda lihat Pak Clinton dan Pak ... Cumi Cumi ... kira-kira siapa yang punya prajurit yang paling BERANI!!! (Presiden aja dilawan) ...Hidup Indonesia ... !!!
Clinton & Koizumi : (...?????????)
******

Catatan :
* Joke ini bersumber dari situs okezone, dengan sedikit penambahan redaksi... secuplik humor Gus Dur di atas sengaja ditampilkan untuk mengenang sosok Gus Dur yang kocak dan humoris, untuk lebih lanjutnya silakan anda mengunjungi situs okezone di rubrik Humor Gus Dur.

Kamis, 31 Desember 2009

Selamat Jalan, Gus!


…Ada tiga orang tahanan dalam satu sel. Ketiganya bersosialisasi satu sama lain. Yang pertama kali mereka lakukan tentu memperkenalkan diri dan menceritakan sebab apa mereka dipenjara. Tahanan pertama mengaku ditangkap dan dipenjara karena anti Che Guevara, tokoh revolusioner sosialis Amerika Latin. Lalu tahanan kedua mengaku dia diciduk dan lantas mendekam di hotel prodeo justru karena pro Che Guevara. Setelah kedua tahanan mengenalkan dirinya masing-masing, tahanan ketiga lantas cepat menukas bahwa dia ditangkap karena dia adalah Che Guevara itu sendiri…
Paragraf di atas adalah guyonan Abdurrahman Wahid alias Gus Dur kepada Fidel Castro, presiden negara komunis, Kuba. Guyonan tersebut lantas mengundang tawa bahak presiden yang terkenal angker dengan janggutnya itu. Guyonan tersebut juga membuat Castro terperangah. Menurut Castro, bagaimana bisa presiden Gus Dur yang memimpin lebih dari 200 juta penduduk dengan segenap masalah akutnya masih bisa melemparkan humor segar, sedangkan Kuba sendiri yang hanya 11 juta jiwa, susahnya bukan main dan selalu memeningkan kepalanya selaku presiden Kuba. Wajar saja Castro heran. Sebab, ia tidak tahu bahwa bagi Gus Dur, yang besar dalam lingkungan pesantren, telah lama menganggap humor adalah tradisi yang mengakar untuk melupakan sejenak segala kesusahan dan kesukaran hidup…
Gus Dur memang lekat dengan imej santai dan humor. Bicara pun dia apa adanya, cenderung tanpa tedeng aling. Guyonan yang membuat Fidel Castro terbahak itu pun lahir dari suasana yang santai. Ketika tiba-tiba saja Castro mampir ke hotel beliau di sela-sela konfrensi G-77 di Havana, Castro disambut dengan sambutan seadanya, dengan celana pendek dan baju kaus. Santai sekali, tanpa protokoler ini-itu. Istana Negara pun saat beliau menjabat sebagai presiden mendadak kehilangan “keangkeran”-nya. Bagaimana mungkin orang bisa berkunjung ke istana dengan busana koko-sarung plus sandal jepit saja? Dan, itu hanya terjadi pada masa kepresidenan Gus Dur. Dari sisi lain kita mungkin masih ingat ketika beliau tanpa sungkan dan takut mengatakan bahwa antara anak TK dan anggota DPR tidak jelas perbedaannya. Celetukan yang tidak mengenakkan anggota dewan itu lantas mengundang protes. Tapi dasar Gus Dur, protes itu pun dibalas dengan celetukan lagi, “gitu aja kok repot!”.
Tak hanya dalam situasi santai, dalam situasi serius saat menjadi presiden pun Gus Dur acap kali mengomunikasikan kebijakannya dengan suasana santai. Mahfudz MD misalnya, pernah bingung saat penunjukannya sebagai Menteri Pertahanan (Menhan). Jelas saja Mahfudz MD bingung, sebab dia tidak punya latar belakang militer, kok tiba-tiba ditunjuk sebagai Menhan. Tapi Gus Dur santai saja menjawab kebingungan calon pembantunya itu, “Lha saya juga tidak punya latar belakang presiden, tapi bisa menjadi seorang presiden. Masak kamu tidak bisa!”.
Kini, sang kiai yang mantan presiden ke-4 Republik Indonesia itu telah berpulang ke sisi-Nya, setelah seminggu sebelumnya melakukan ziarah ke makam orang-orang tercinta. Sekilas kata di atas tadi hanyalah secuplik kecil imej santai beliau yang tak mungkin terhapus dari ingatan kolektif bangsa ini. Masih banyak warisan pemikiran baik dan serius yang beliau tinggalkan untuk kita jaga dan kembangkan. Seperti demokrasi dan persamaan hak semua warga negara Indonesia, misalnya.
“Demokrasi itu bukan hanya tidak haram, tapi wajib dalam Islam. Menegakkan demokrasi itu salah satu prinsip Islam, yakni syuro.” Itu perkataan beliau mengenai hubungan Islam dan Demokrasi. Dalam persaman hak sebagai warga negara, beliaulah yang melegalkan etnis Tionghoa Indonesia untuk melakukan ibadah dan mengembangkan kultur mereka secara bebas. Tak heran jika masyarakat Tionghoa Indonesia mengangkat Gus Dur sebagai Bapak Tionghoa.
Ya, Gus Dur yang sering berpandangan kontroversial itu telah berpulang! Kita yang tinggal dan masih hidup tinggal menimbang dan menggali segenap pikiran dan sumbangan beliau terhadap bangsa ini. Beliau telah berpamit pulang untuk menghadap-Nya. Dan, beliau tidak perlu repot lagi berpikir dan mengurus bangsa ini. Tugas itu telah terpulang kepada kita yang ditinggalinya…
Selamat jalan, Gus! Semoga selamat sampai TUJUAN…


Zamroni Rangkayu Itam